CERPEN JILBAB ANDIN


Jilbab Andin

Aku memandangnya begitu istimewa. Wajah yang menawan dan menyajikan senyum menggoda. Melihatnya langsung seperti menawarkan hawa segar. Sebenarnya tidak sulit menemukan wajah periang itu. Cukup membeli majalah remaja seharga Rp15.000,00 maka kamu bisa menikmatinya bebas.
Belum pernah aku mendapat kesempatan memfoto dirinya. Mungkin karena karakter majalah yang berbeda. Aku pernah membayangkan, betapa cantiknya jika ia berpenampilan berbeda. Akan lebih anggun dan membuat penasaran bila rambut hitam yang sering dibanggakan itu ditutup dengan jilbab. Bukankah apa yang disembunyikan lebih menarik untuk diperhatikan?
Andin. Itu adalah nama yang selalu menyertai fotonya. Perempuan muda cantik sekaligus model dalam beberapa majalah.
***
Tanpa sengaja aku bertemu langsung dengan Andin siang ini. Memang, posisiku tidak berada tepat di hadapannya. Tetapi aku berada di meja seberang tempat ia makan. Bisa kudengar jelas apa yang mereka bicarakan.
“Ndin, kenapa kamu akhir-akhir ini mengecewakan. Mana aura kamu selama ini? Aku sudah tidak menemukan kamu yang dulu,” kata Bugi. Aku tahu siapa Bugi. Dia sama sepertiku, seorang fotografer.
“Aku sepertinya sakit,” sangat malas Andin menjawabnya. Sama malasnya dengan  memasukkan makanan dari sendok ke dalam mulutnya. Seperti tidak ada minat untuk makan siang ini.
“Sakit apa yang bisa menghalangi kamu? Entahlah, mungkin hanya perasaanku. Aku melihat kamu akhir-akhir ini sangat pucat. Aku kehilangan Andin.”
“Sepertinya aku ingin berhenti menjadi model. Aku lelah.”
Bugi terkejut. Ia yang sedari tadi merajuk kini perlahan meletakkan sendok dan garpunya. Batal santap siang hari ini. Kata-kata Andin sudah memenuhi perutnya yang tiba-tiba kenyang.
Sebelum mereka beranjak pulang dan melewati tempatku duduk, Bugi menyapaku. Memperkenalkan Andin. Untuk pertama kalinya aku bisa memandang Andin dengan jarak begitu dekat dan nyata. Tidak sebatas kertas yang majalah bergambar dirinya.
“Andin,” suranya lirih. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan suara ketika ia berargumen dengan Bugi.
“Zanu,” kataku.
“Zanu ini fotografer majalah muslim. Pernah lihat hasil foto-foto dia di majalah kan Ndin?” tanya Bugi.
“Ya, suatu saat aku ingin menjadi modelmu.”
“Hah? Kamu mau pakai baju karung?” ada ejekan dari nada bicara Bugi.
Deg! Kata-kata Bugi menurutku memang penuh ejekan. Sedangkal itukah pemikiran dia mengenai fotografer majalah muslim? Salahkan busana muslim yang menutup aurat dari kemolekan tubuh perempuan?
***
Sejak pertemuan itu, tak pernah kulihat lagi wajah mempesona Andin di majalah. Digantikan dengan wajah-wajah baru yang menurutku biasa saja. Kabar yang kudengar dia sedang sakit dan tidak memungkinkan untuk kembali menjadi model. Kenapa?
***
            Seperti biasa, hari ini pergi ke kantor. Hari-hariku memang terasa monoton. Tetapi menjadi fotografer punya kepuasan tersendiri. Bisa melukis melalui cahaya, kemudian menampilkan wajah-wajah dalam kertas yang dinikmati mata.
Tapi hari ini ada hal yang berbeda. Di kursi sebelah monitor tempat melihat hasil foto, ada seorang perempuan dengan jilbab manis duduk dan berbicara dengan asistenku, atau lebih tepatnya kawanku yang sering membantu membawa alat pemotretan jika lokasinya di luar ruangan.
Sudah dua tahun ini kami menjadi tim. Sejak dua tahun terakhir ini aku juga kehilangan wajah Andin. Entah dia bersembunyi di belahan bumi mana. Tapi itu tidak terlalu penting, karena sekarang aku tidak bisa berbohong jika perhatianku tertuju pada perempuan berjilbab yang sebelumnya belum pernah kulihat.
Kemudian dia mendongakkan kepalanya. Senyum yang sangat akrab dalam memori otakku. Tetap mempesona, namun ada yang berbeda. Sekarang wajah itu dibungkus jilbab yang membuatnya semakin terlihat berbeda. Andin.
“Halo Zanu? Aku ingin memenuhi janji dua tahun lalu. Kamu ingat? Aku ingin jadi modelmu. Bolehkah?” ada nada riang dari suaranya.
“Ya, ada yang berubah darimu. Aku curiga ini gara-gara janji itu.” Godaku, namun jujur saja aku masih terkejut dengan kehadirannya di sini.
“Ah, ceritanya tidak sesingkat itu.”
“Aku punya waktu untuk mendengarkan ceritamu. Ini terlalu pagi untuk pemotretan. Mari mengunggu siang dengan bercerita.”
Andin mulai bercerita tentang menghilangnya selama ini.
“Percaya atau tidak, aku sakit dua tahun ini, leukimia.  Kemotherapy membuat rambutku rontok dan benar-benar membuatku botak. Kamu pasti tahu, dulu betapa aku membanggakan rambut indahku. Tapi ketika semua itu hilang, tak ada lagi yang istimewa. Itu menurutku dulu.”
“Jadi jilbab ini hanya sebatas menutupi rambutmu yang sudah lenyap?” Aku memotong ceritanya.
“Hei, jangan langsung berpersepsi seperti itu. Bukankah sebelumnya aku sudah mengatakan bahwa ceritaku tak sesingkat dan sesederhana itu? Bagaimana, aku menawarkan kepadamu. Maukah mendengarkan ceritaku lebih lanjut?” Aku menangkap ada sedikit emosi dari nada bicaranya. Selanjutnya aku hanya tersenyum kemudian mengangguk. Anggukan yang mengisyaratkan cerita itu berlanjut.
“Ketika aku melihat wajahku dalam balutan busana muslim dan jilbab, baru kusadari ternyata ini yang aku cari selama ini.”
“Maksudnya?”
“Ya, aku merasakan perbedaan yang membuat damai. Aku yakin Allah sangat menyayangiku Zanu. Dan membuatku berubah seperti sekarang ini. Sakit ini adalah teguran untukku. Aku terlalu sombong dengan penampilan dan membanggakan rambut yang kini lenyap. Malu jika mengingat aku yang dulu.” Andin terdiam sebentar. Kemudian melanjutkan ceritanya. ”Sakit leukimia ini awalnya membuat putus asa, namun putus asa itu hanya sebentar. Karena sudah terjawab dan kamu bisa melihatku seperti sekarang. Aku sadar, ternyata hal yang dulu kubanggakan jika saatnya Allah menginginkan itu diambil, maka hilang. Dan jika waktu itu aku masih memaksakan untuk menjadi model, maka siapa fotografer dan majalah bodoh yang mau memakai model pucat dan perkepala botak. Nanti dikira aku spesies alien dari planet lain.” Ada canda dalam kalimatnya.
“Kamu sudah total sembuh?” akhirnya aku bertanya.
“Aku belum sembuh. Dan sepertinya memang tak bisa sembuh. Tidak bisakah kamu melihat pucat diwajahku?”
“Ah, pucat itu sudah tersamar.”
“Aku ingin, sekali saja kembali muncul di majalah dengan penampilan yang berbeda. Hanya sekali Zanu. Setelah itu aku tidak akan datang lagi.”
Hari mulai merangkak siang ketika pemotretan itu dimulai. Model yang ada di depanku kini benar-benar Andin, perempuan yang dulu seperinya tidak ada kesempatan untukku melukisnya melalui cahaya. Besok, ketika majalah ini terbit, maka jutaan pasang mata akan dimanjakan dengan model yang lama hilang dan muncul dengan wajah baru. Andin mengobati rindu mata yang ingin melihatnya.
***

Aku kira ucapan Andin waktu itu hanya gaurauan. Ternyata benar, dia tak pernah lagi muncul di studioku. Ada rasa kehilangan. Memang, selalu ada rencana yang digariskan oleh Allah. Tidak selamanya penyakit yang menimpa tubuh adalah musibah. Karena dari diri Andin, aku bisa melihat pintu lain dari sebuah musibah. Leukimia membuatnya kini semakin cantik. Jika leukimia tidak menyapa dan tinggal ditubuhnya, mungkin kini aku masih melihat Andin yang membanggakan rambut indahnya. Percayalah, jilbab yang kemarin aku lihat membungkus wajah itu membuatnya semakin mempesona.
***

Aku pernah mewujudkan keinginannya untuk sekali lagi muncul di majalah dengan tampilan yang berbeda. Dan kini aku juga ingin menyampaikan inginku.
Andin, di manapun kamu sekarang, bisakah kamu datang menjadi model terhebatku?


Keterangan: Cerpen ini menjadi Juara II dalam lomba menyambut isra mi'raj yang diadakan oleh FKM bekerja sama dengan IMM.