GADIS PEMINTA



Gadis Peminta
Cerpen: Utami Pratiwi

Tak biasanya Minggu pagi aku berada di tempat ini. Melihat benteng Vredeburg yang masih sepi dan jalan lenggang jarang orang. Bisa dipastikan siang nanti tempat ini menjadi area penuh sesak orang menghabiskan hari.
Di sisi lain kualihkan pandangan. Tampak jelas gadis kecil dengan kerudung biru sudah duduk dengan kaki yang digoyang-goyangkan. Tangan kirinya sibuk merapikan amplop putih yang kemudian dimasukkan ke dalam kantong celana kumal. Sepagi ini, ketika Malioboro belum bangun, gadis kecil itu sudah siap mendulang uang.
“Ayo siapkan posisi kalian masing-masing. Sebelum siang kita harus menyelesaikan semua ini.” Suara yang mengalihkan perhatianku. Aku beranjak dari pemandangan tadi. “Luna, tempatmu di mana?”
“Aku di samping aktor utama Mas.” Jawabku enggan. Jujur saja, kantuk masih menguasaiku.
Hari ini aku membantu kawanku membuat film dokumenter. Partisipasiku tidak terlalu penting. Tapi aku menghargai ajakan mereka, walaupun ada jengkel disela kantuk ini karena aktor utama yang tak kunjung datang. Aku tidak sendiri, ada enam kawan lainnya. Wajah mereka tidak bisa berbohong. Tidak jauh berbeda dengan keadaanku, kantuk yang dibungkus kejengkelan.
Matahari sudah mulai naik. Tempat yang tadinya sepi mulai dilalui beberapa orang. Take adegan bersama aktor utama ditunda. Entahlah, mungkin ia masih nyaman dalam hangat selimut. Aku bersama emam kawanku duduk. Gadis kecil tadi kembali mengalihkan pandanganku.
Dengan ceria tiba-tiba ia menghampiri tempat duduk kami.
“Kak, permisi. Ini tolong diisi ya.” Di sela kata-kata itu, gadis tadi membagikan amplop putih yang diambil dari saku celana. Amplop yang sejak pagi sudah dipersiapkan. “Aku tinggal sebentar ya Kak.” Ia menjauh, duduk berseberangan dengan posisi kami. Seperti tadi pagi, dengan menggoyang-goyangkan kaki kecilnya.
Ternyata di belakang amplop itu terdapat kalimat dengan susunan retorika menarik. Berharap tulisan tersebut menghipnotis orang yang membacanya dan dengan gampang memindahkan rupiah dari dompet ke dalam amplop.
“Anak tadi lucu ya, imut lagi.” Risa temanku memperhatikan gadis tadi sambil memasukkan uang Rp5000,00 ke dalam amplop. Aku baru sadar, ternyata daya tarik memindahkan rupiah tidak hanya dari tulisan di balik amplop. Wajah lucu gadis tadi lebih mempesona.
Tak lama, gadis kecil tadi menghampiri kami. Ia meminta kembali amplop-amplop tadi dan menyimpannya dalam saku celana.
“Terima kasih ya kakak-kakak cantik.” Ucapan yang sangat polos.
“Adik namanya siapa?” Aku menariknya agar posisi lebih dekat denganku.
“Palupi.”
“Sudah sekolah belum?” Lanjutku.
“TK.” Jawaban singkat dan seperlunya.
“Kerja seperti ini siapa yang nyuruh?”
“Emmm.” Ada kebimbangan dari eksprsesi wajah lucunya. “Jangan bilang-bilang ya Kak.” Matanya memperhatikan kami satu per satu dan mengintruksikan gerakan mengangkat jari telunjuk dan tengah untuk berjanji tidak mengatakan kepada siapa-siapa. Swear.
“Ya.” Kami serempak mengangkat tangan seperti kemauannya. Malah terlihat seperti gaya berfoto. Peace.
“Ibu Palupi sedang ngawasi. Jadi kakak jangan bilang ke ibu.” Katanya lirih sampil meletakkan telunjuk di bibirnya.
“Ibu Palupi kerja di mana?” Risa ganti bertanya.
“Tidak kerja. Ya, kerjanya ngawasi Palupi, Kak. Apalagi kalau hari Minggu seperti ini.”
Deg! Miris mendengar pengakuan gadis kecil ini. Ketika anak-anak seusianya menikmati hari dengan bermain atau Minggu pagi seperti ini asyik menonton film kartun. Kenyataan ia  harus sejak pagi bekerja mencari uang. Tiba-tiba ia duduk dipangkuanku. Menciumku dan berajak.
“Sudah ya, Palupi tidak bisa temani kakak-kakak terlalu lama.” Ia pergi sambil melambaikan tangan, berjalan riang menghampiri kerumunan wisatawan lain.
Matahari mulai terik, dan bisa dipastikan tempat ini tak sesepi tadi. Keramaian sudah tergambar. Palupi kembali menjalankan pekerjaannya. Berpindah dari kerumunan satu ke kerumunan lainnya.
“Kumpul lagi, aktornya sudah datang.” Teriak Andre sang sutradara film dokumenter ini. Tak lama setelah itu ia mengatur posisi. Ragaku memang berdiri di samping pohon ini, sedikit melindungi diri dari terpa matahari. Sejujurnya, pikiranku masih tertuju pada sosok Palupi yang dengan polos mengecup pipiku.
Palupi, dia adalah salah satu gadis kecil peminta yang ada di sini. Masih banyak Palupi lain sepertinya. Hari Minggu dalam kamus kehidupannya adalah mencari uang dari pagi. Mencari uang sebanyak-banyaknya.
Tak sempat tertawa di depan tv, melihat kelucuan dan kekonyolan film kartun. Bahkan aku sangsi apakah di rumahnya ada tv untuk menghibur lelah seharian. Tak sempat pula sedikit melihat sekilas berita korupsi massal di negeri ini dan memaksanya meminta-minta.
“Luna! Melamun saja. Ayo fokus! Fokus!” teriak Andre.
Aku tersentak dari lamunan. Kemudian imajiku mengubah sosok Andre seperti Ibu Palupi yang memerintah semaunya. Memanggang dalam panas siang ini. Memaksa kemauan seperti yang diharapkan. Dan, aku seperti Palupi, menurut sang sutradara. Ya, semua ini adalah arahan sutradara. Menuntut agar aktor menurut apa yang diperintahkan. Menuntut pendapatan uang sebanyak-banyaknya.
Aku melirik ke arah seberang jalan. Tak kutemukan gadis itu. Entahlah, kenapa aku rindu gadis peminta berkerudung biru itu, Palupi.