Tentang Pelukan Mimpi


Pelukan Mimpi
Setiap ditanya apa motto hidup saya, saya selalu menjawab “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”. Ya, kalimat tersebut saya ambil dari novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Saya memang mengidolakan Andra Hirata, bahkan dulu sangat mengagumi karya-karyanya. Namun semakin banyak novel yang saya baca, mulai bermunculan nama pengarang lain yang menjadi idola saya.
Kembali ke motto hidup. Walaupun kekaguman terhadap Andrea Hirata tidak sedasyat dulu, tetapi untuk rangkaian kata-katanya masih menjadi hal yang dasyat dalam hidup saya. Sekarang saya baru bisa menikmati arti dari motto tersebut.
Tuhan tidak pernah sekalipun melupakan mimpi yang dulu pernah saya ukir, dan entah karena alasan apa mimpi itu sempat vakum selama kurang lebih lima tahun. Untuk ukuran ingatan manusia, mungkin sudah terlupakan. Tetapi inilah yang berbeda. Jika tataran mimpi bisa digambarkan ke dalam sepuluh lapis, saya kini mulai menginjakkan lapis ketiga.
Lapis pertama yang membuat saya merasa menang dari vakum lima tahun adalah dengan menulis lagi. Awalnya saya malu jika cerpen saya dibaca orang lain. Namun, kalau tidak dipublikasikan, kapan mereka tahu kalau kita menulis? Setelah beberapa kali revisi, akhirnya saya mencoba mengikuti lomba yang diadakan kampus untuk selekda. Faktor keberuntungan dan pelukan dari Tuhan membawa saya lolos dan mengikuti selekda dalam rangka PEKSIMINAS XI. Saya menyebut ini adalah langkah saya menuju lapis mimpi kedua.
Kekalahan itu pasti  selalu membawa pelajaran. Berproses yang telah dilalui membawa dampak bermacam-macam, tergantung dari mana kita melihat aspek tersebut. Kegagalan lolos PEKSIMINAS XI menuju Lombok, Nusa Tenggara Barat membuat saya kecewa. Ya, siapa yang tidak kecewa batal pergi ke Lombok. Secara kebetulan memang saya belum pernah pergi ke pulau tersebut. Jangankan pulau Lombok, bahkan saya belum pernah keluar dari pulau Jawa, kecuali dalam mimpi saat tidur. Lapis mimpi kedua saya mengantar sampai Juara III pada Lomba Penulisan Cerpen Antar Perguruan Tinggi Se-DIY.
Untung kecewa itu tidak menutupi pandangan mata saya untuk mencari pintu lain agar segera keluar dari kekecewaan. Dan inilah jawaban dari pelukan mimpi saya selanjutnya. Untuk pertama kalinya saya mengirim cerpen ke koran Minggu Pagi. Obsesi pertama saya karena ada rasa diremehkan dari seseorang yang sebenarnya sayang kepada saya. Mungkin itu cara beliau menunjukkan rasa sayangnya kepada saya.
Saya mengirim cerpen pertama saya dan untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup saya, cerpen tersebut dimuat. Jika ada yang melihat ekspresi kegembiraan itu pasti akan tertawa. Bisa dibayangkan mulai sekarang. Kedaan pagi hari dengan hamparan baju belum disetlika tiba-tiba ada nomor baru memanggil. Perlu diketahui, saya paling malas dengan urusan telfon menelfon, saya lebih suka sms. Ada kebimbangan saat itu, namun ketika orang di seberang sana yang sekarang saya tahu namanya Bapak Latief Noor Rachmans mengatakan bahwa cerpen saya dimuat, langsung saya teriak-teriak dan melupakan seluruh hamparan baju yang belum tersentuh panas setlika.
Saya mengirim naskah cerpen hari Jumat tanggal 1 juni 2012 dan mendapat konfirmasi dimuat hari Rabu tanggal 6 Juni 2012. Sekarang, hari Jumat tanggal 8 Juni 2012 saya sedang menikmati lapis mimpi ketiga saya dengan memandangi koran Minggu Pagi yang terbit hari ini.
Tahun ini saya mendapat banyak sekali pelajaran. Dan tahun ini juga secara pertahap mimpi-mimpi saya mulai tercapai. Saya tidak hanya akan berhenti pada lapis ketiga, karena saya yakin Tuhan akan melepaskan pelukan mimpi-mimpi saya dan menjadikannya kenyataan.
Terima kasih untuk orang-orang yang menyayangi dan membenci saya. Kehadiran kalian akan memunculkan konflik-konflik menarik dalam setiap tulisan. Silakan menikmati cerpen saya dalam blog ini. Cerpen Surat dalam Botol adalah cerpen ketika saya lolos seleksi kampus. Cerpen Cerita Lelaki Tua adalah ketika saya mendapatkan juara III dan cerpen Gadis Peminta adalah cerpen yang dimuat di koran Minggu Pagi edisi No: 10 TH 65 Minggu II Juni 2012 terbit 8 Juni 2012. Selamat membaca...
Kos Jomblowati (mewah), 8 Juni 2012