MAJAS DAN PENYIMPANGAN STRUKTUR DALAM NOVEL SEBELAS PATRIOT KARYA ANDREA HIRATA







Sinopsis novel “Sebelas Patriot” karya Andrea Hirata
Menceritakan tentang Ikal yang ingin sekali menjadi pemain PSSI. Keinginan tersebut sangat menggebu karena untuk meneruskan perjuangan ayahnya. Ketika muda dulu, ayah Ikal menjadi pemain sayap kiri yang hebat dan bisa mengalahkan penjajah, yaitu Belanda dalam hal sepak bola.
Saat itu, untuk merasakan suatu kemerdekaan hanyalah dengan bermain sepak bola dan ketika kemenangan itu diraih sangat mengesankan. Akan tetapi Ikal tidak bisa lolos seleksi menjadi pemain PSSI. Kekecewaan tersebut tidak membuatnya terpuruk. Suatu hari setelah melihat pertandingan bola di televisi, Ikal menanyakan club bola yang disukai ayahnya. Dengan mantap ayahnya berkata selain PSSI, ia mengidolakan club besar Real Madrid. Pemain idola ayah Ikal adalah Luis Figo.
Setelah Ikal melanjutkan study ke Eropa, ia mengumpulkan uang dengan cara bekerja keras untuk membeli kaos Luis Figo beserta tanda tangan aslinya. Kaos itu dipersembahkan untuk ayahnya. Ikal ingin membuat ayahnya senang dengan pemberian kaos idolanya tersebut demi mengganti kekecewaan karena gagal masuk tim PSSI.
Di Eropa, Ikal bertemu dengan perempuan-perempuan penggila bola. Ia juga berhasil melihat pertandingan Real Madrid secara langsung karena mendapat tiket gratis dari Andria, seorang penjaga toko yang menjual kaos Luis Figo. Walaupun Ikal mengidolakan Read Madrid namun club sepak bola yang dihatinya dan selalu disintainya hanyalah PSSI. Ia ingin menyebut para pendukung PSSI dengan sebutan patriot PSSI.




A.    Majas yang Terdapat dalam Novel “Sebelas Patriot” Karya Andrea Hirata
Majas atau gaya bahasa adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tulis. Menurut Keraf (2007:133) gaya bahasa adalah atau majas adalah cara pengungkapan pikiran melalui bahasa yang khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis.
Majas yang terdapat dalam novel “Sebelas Patriot” karya Andrea Hirata adalah majas personifikasi, simile, hiperbola, eufimisme, disfimisme dan litotes.

1.      Personifikasi adalah semacam gaya bahasa yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat seperti manusia (Keraf, 2006:140). Contohnya adalah sebagai berikut:
·         Ayah langsung membunyikan kliningan sepeda dan kami meluncur dengan deras. (halaman 9)
·         Van Holden terpana. Berita tentang tiga saudara rupanya bukan berita kosong.(halaman 17)
·         Sebaliknya, mereka tampak gembira mendapati diri meliuk-liuk di lapangan.(halaman 20)
·         Aku semakin menyukai geratan-geratan misterinya. (halaman 25)
·         Pandangan menyapu seluruh lapangan. (halaman 39)
·         Maka Kawan, sejak itu aku dan Mahar menjunjung kue lebih banyak dan berjualan keliling kampung lebih rajin demi membeli sepatu sepak bola. (halaman 41)
·         Selama bermain rasanya aku menjelma menjadi Ayah.( halaman 43)
·         Perasaanku melambung-lambung.( halaman 44)
·         Tak sampai hati aku melihat lelaki kurus tinggi itu berdiri pucat sendirian macam orang mau dieksekusi lalu berpuluh bola menembaki dirinya. (halaman 46)
·         Diancamnya kami dengan pedas agar kami jangan sekali-kali kalah. Namun nanti jika kami kalah, dia menjelma menjadi orang yang sangat lembut. (halaman 47)
·         Semangat kami terpompa. (halaman 48)
·         Tidakkah kau tahu dia itu itu punya aura seorang pemain sepak bola jempolan.(halaman 54)
·         Semangatku kian menggelegak waktu Pelatih Toharun mengatakan bahwa waktu muda dulu dia pernah melihat ayahku beraksi.( halaman 55)
·         Perasaanku terjerembab.( halaman 59)
·         Bahwa seseorang bernama Ikal pernah menjadi pemain sayap kiri yang cukup bermutu di klub legendaries itu, berpenampilan tak ubahnya pemain kawakan Inggir Kevin Keegan, dan tinggal selangkah lagi menjadi pemain PSSI- mengharumkan nama kampung udiknya.(halaman 64)
·         berbulan-bulan hidup seperti gelandangan sebagai backpacker beranggaran tiarap. (halaman 71)
·         Suaranya berebutan dengan ingar-bingar serombongan besar turis berwajah Asia yang keranjingan berada di took resmi cendera mata Real Madrid.(halaman 72)
·         Gadis Espana yang cantik itu menatapku dalam-dalam. Matanya yang biru membiusku.( halaman 88)
·         Kami duduk berhadapan di kafe-kafe, memegang telinga mug, menyetor kisah-kisah.(halaman 91)
·         Hatiku tunggang langgang jika berdekatan dengan perempuan yang menggetarkan itu.(halaman 91-92)
·         Mereka dapat melihat negara dunia ketiga menggempur negara maju. (halaman 96)
·         Negara dunia ketiga selalu kena telikung. (halaman 96)
·         Sepak bola bukanlah sekedar dua puluh dua orang laki-laki ganteng kurang kerjaan berlari lintang pukang, bertumburan tak karuan, demi memperebutkan sebuah bola. (halaman 96)

2. Simile  adalah perbandingan yang bersifat eksplisit yaitu bahwa dia langsung  menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain. Untuk itu memerlukan upaya yang eksplisit untuk menunjukkan kesamaan itu yaitu kata-kata seperti, sama-sama, bagaikan, laksana, dan lainnya (Keraf, 2006:132). Dalam novel “Sebelas Patriot” karya Andre Hirata terdapat beberapa majas simile seperti berikut:
·        Maka  Ayah, seperti semua orang Melayu itu, hanyalah unsur sederhana dalam kronologi zaman, (halaman 3)
·        Ayah memanggilku. Seperti biasa kalau sang pemburu tua baru saja menangkap hewan liar, kami selalu datang untuk melihatnya. (halaman 8)
·        Yang paling sering kutanyakan tentu saja yang kasatmataku, misalnya telapak tanganya yang kasar seperti amplas dan jalanya yang timpang, terpincang-pincang. (halaman 9)
·        Tak ada yang dimanfaatkan dari mereka selain tenaganya. Mereka diperlakukan penjajah bak kuda beban. (halaman 15)
·        Kadang kala ia bak lapisan-lapisan dan aku disuruhnya membongkar lapisan-lapisan itu, atau adakalanya ia seperti sesuatu yang sedang menungguku? (halaman 25)
·        Jika melihat Wak Haji memelototi kami mengaji dengan kedua tangan bersilang di depan perut, kulihat dia seperti pemain belakang sedang menjaga aset terpentingnya saat mengadang tendangan bebas. (halaman 42)
·        Selanjutnya adalah gelap karena aku ditindih para pemain kami yang bersorak-sorak macam orang kesurupan. (halaman 50)
·        Asistennya yang pernah sakit jiwa itu berlari ke sana kemari macam orang mengejar layangan putus.(halaman 50)
·        Langit senja menjadi jingga, awan tenang seperti memasang telinga.(halaman 51)
·        Lalu takkan pernah kulupa, waktu kami naik ke kapal, Pelatih Toharun menangis terisak-isak seakan takkan pernah melihat kami lagi. (halaman 57)
·        Dalam pembicaraan orang-orang setelah pengumuman itu terendus kabar bahwa aku tak terpilih lantaran seorang pelatih provinsi berpendapat bahwa jika berlari di sayap kiri itu aku macam orang keberatan pantat. (halaman 59)
·        Namun, sepak bola bak angkasa raya yang senantiasa berpijar melahirkan bintang-bintang baru.( halaman 60)
·        Maka Kawan, jika kau tanyakan soal sepak bola padaku, pasti aku akan melamun sejenak, karena aku punya kisah cinta dengan sepak bola, semacam cinta pertama kurang lebih.(halaman 63)
·        Sepak bola, dimainkan atau sekadar ditonton Ayah, tetaplah baginya menjadi Surga kecil selama dua kali empat puluh lima menit.(halaman 66)
·        Santiago Berbabeu jauh lebih besar dari yang kubayangkan. Sebuah bangunan bak benteng.(halaman 71)
·        Di situ daya tarik terbesarnya selain keherananku bagaimana dua butir kelereng berwarna biru bisa berasa dalam kepala manusia?(halaman 72)
·        Bagi sebagian sahabat perempuanku, lapangan bola dan warna-warninya adalah lukisan, pertandingan bola bak konser, dengan pemain sebagai musisi dan para penomton sebagai backing vocal, integritas pemain , daya juan, dan sportivitas, mereka perhatiakan. Slogan, lagu-lagu penyemangat, dan pada iklan apa saja pemain kesayangannya telah tampil, adalah detail yang sering terlewatkan penonton pria. (halaman 95)
·        Berada di antara masyarakat yang asing nun jauh dari kampung sendiri menyadarkanku bahwa indonesia bangsaku bagaimanapun keadaannya adalah tanah mutiara di mana kau dilahirkan. (halaman 99)

1.      Hiperbolaadalah semacam gaya bahasa yan mengandung suatu pertanyaan yang berlebih-lebihan dengan membesar-sebarkan suatu hal. Contohnya sebagai berikut:
·         Telah  kutemukan dalam buku sejarah, bahwa timah berlimpah di pulau kami Belitong membuat Belanda bernafsumengeruk sebanyak-banyaknya. (halaman 5)
·         Mereka saudara kandung dan dipaksa Belanda meninggalkan rumah untuk menggantikan ayah mereka yang hampir sepanjang hidup telah ditindas Belanda, sampai lunas tenaga dan usianya. (halaman 5-6)
·         Adik tengahnya melesat di posisi kanan luar, dan si bocah bungsu yang kini berusia 14 tahun amat gemilang sebagai pemain sayap kiri.(halaman 17)
·         Jika tim parit tambang bertanding, seisi pulau berbondong-bondong ingin menyaksikan kehebatan mereka. Ingin melihat tendangan halilintar si bungsu dengan kaki kirinya. (halaman 19)
·         Van Holden menyaksikan sendiri bahwa anak-anak muda itu melesat bak bintang kejora di mata rakyat dan segera dirasakannya sebagai ancaman yang tidak main-main.(halaman 20)
·         Lapangan bola adalah medah pertempuran utnuk melawan penjajah. (halaman 21)
·         Kawan, si bungsu itu, yang diseret ke parit tambang sejak berusia 13 tahun, seorang pemain sepak bola sayap kiri berbakat alam lura biasa, yang berlari sederas menjangan. (halaman 24)
·         Pelatih Toharun mendadar tim junior tanpa ampun sampai kami muntah-muntah. (halaman 41)
·         Pintu masjid menjadi gawang. Jika mencium tangan Wak Haji usai mengaji, aku meliuk di depannya seperti stiker mau mengecoh panjaga gawang, di dongkol. (halaman 4)2
·         Kepada Pelatih Toharun aku mohon petuah bagaimana agar tendangan kaki kiriku menggelegar- maksud hatiku, agar macam tendangan kiri halilintar ayahku dulu. (halaman 42)
·         Tami kemudian kami dikumpulkannya untuk berdoa. Seperti biasa, doa Pelatih Toharun sebelum pertandingan sangant panjang karena tidak hanya doa agar tidak terjadi kezaliman di lapangan sepak bola terhadap para pemain, wasit , penjaga garis, dan penonton, tetapi juga doa bagai keselamatan para pemimpin Negara, doa bagi para pahlawan yang telah mendahului kita, dan doa bagai kesejahteraan seluruh umat manusia. (halaman 48)
·         bola itu lalu kubabat sekuat tenaga dengan kaki kiri. (halaman 50)
·         Tak banyak yang dapat kupersembahkan untuk ayahku, hanyalah sebuah gol, namun perasaan indah meluap-luap di dalam dadaku.(halaman 51)
·         Persaingan sangat ketat. Hanya segelintir pemain yang bisa berangkat ke Palembang untuk diseleksi manjadi pemain junior Provinsi Sumatra Selatan. (halaman 53)
·         Pelatih Toharun yang dipojokkan dari tadi, mati-matian membelaku.(halaman 54)
·         Tidak ada, tidak sedikit pun ada, yang tertinggal dari Kevin Keegan dalam dirimu, Ikal,” katanya dengan wajah prihatin dan nada suara bersimpati di atas karier sepak bola juniorku yang berada di ambang sakratul maut.(halaman 60)
·         Kutendang bola dengan kaki kiriku, sedahsyat meriam, sambil jumpalitan, gol!(halaman 63)
·         Pertanyaanku itu mungkin untuk yang kedua ratus enam puluh lima kali.(halaman 66)
·         Memasuki halaman mukanya aku merasa tertelan karisma dari salah satu klub sepak bola paling tersohor seantero jagat ini.(halaman 71)
·         Aku telah melakukan segalanya demi kaus itu, bekerja pontang-panting siang dan malam.(halaman 84)
·         Mengapa kau tergila-gila pada sepak bola? Tanyaku pada andriana. (halaman 93)
·         Olah raga ini seperti memiliki seribu wajah yang ditatap oleh seribu wajah pula. (halaman 96)

2.      Eufimismeadalah pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirsa kasa dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus. Contohnya sebagai berikut:
·         Tiga saudara yang simpatik, baik penampilan maupun sportivitasnya, dan kisah hidup mereka yang memilukan telah menjadi buah bibir. (halaman 19)

3.      Disfimismeadalah pengungkapan penyasatan tabu atau kurang pantas sebagaimana adanya. Contohnya sebagai berikut:
·         Sementara itu, aku masih saja menyimpan fota yang kucuri dari album foto milik itu itu.(halaman 25)
·         Aku makin keranjingan pada sepak bola. Jika mengaji di masjid, rasanya tak sadar ingin cepat selesai agar bisa segera kabur ke lapangan bola. (halaman 42)

4.      Litotesadalah adalah semacam gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan merendahkan diri. Contohnya sebagai berikut:
·         Aku tahu rupaku tak lebih bagusdari seorang maling jemuran yang cemas diuber masa. (halaman 71)
Beberapa majas yang digunakan dalam novel “Sebelas Patriot” karya Andrea Hirata tersebut bertujuan  untuk memberikan unsur-unsur keindahan dalam karyanya.

B.     Penyiasatan Struktur yang Terdapat dalam Novel “Sebelas Patriot” Karya Andrea Hirata

Ada bermacam gaya bahasa yang terlahir dari penyiasatan struktur kalimat. Salah satu gaya yang banyak digunakan orang adalah yang berangkat dari bentuk pengulangan baik yang berupa pengulangan kata, bentuk kata, frasa, kalimat, maupun bentuk-bentuk lainnya. Misalnya gaya repetisi, paralelisme, anaphora, polisindenton, asindenton, antitetis, aliterasi, klimaks, antiklimaks dan pernyataan retoris. Dalam novel “Sebelas Patriot” karya Andrea Hirata terdapat penyiasatan struktur repetisi atau anaphora, aliterasi, klimaks.

1.      Repetisi merupakan dua bentuk gaya pengulangan dengan menampilkan pengulangan kata atau kelompok kata yang sama. Kata atau kelompok kata yang diulang dalam repetisi bisa terdapat dalam satu kalimat atau lebih, dan berada pada posisi awal, tengah, atau di tempat lainnya. Gaya ini terdapat dalam novel “Sebelas Patriot”  karya Andre Hirata berikut ini:
·         Aku telah melihat orang-orang seperti Ayah ketikamereka baru bekerja, ketika sedang bekerja, dan ketika mereka pensium. (halaman 3)
·         Ayah adalah inti dari kesederhanaan itu karena sikapnya yang sangat pendiam, tak pernah menuntut apa pun dari siapa pun, merasa tak perlu membuktikan apa pun pada siapa pun, selain kekasih sayang untuk keluarga, tak banyak tingkah. (halaman 4)
·         Merekatak menghiraukan bahaya yang bahkan dapat mengancam jiwa. Mereka tak dapat menahan diri untuk tidak bermain sepek bola. Karenasepak bola adalah kegembiraan mereka sata-satunya. Karenamereka tahu bahwa sepak bola berarti bagi rakyat jelata yang mendukung mereka. (halaman 21)
·         Ah, itu ayahmu! Ayahmu sendiri, Ikal” (halaman 26)
·         Namun, mereka tak menghiraukan larangan itu. Sebelas pemain, sebelas patriot berbasis tegak , tak dapat lagi ditakuti Belanda. (halaman 28)
·         Aih, janganlah takut bujang, janganlah takut. (halaman 31)
·         Sore itu aku semakin mengerti arti Ayahku bagiku. Sore itu adalah sore terindah dalam hidupku. (halaman 52)
·         Tak terbendung, Ikal, ayahmu tak terbendung. (halaman 55)
·         Biarlah, biarlah, sebab selebihnya, akan dan ayahku semakin setia pada PSSI. Silakan kau, atau siapa saja, berkata apa. Silakan orang ngomel-ngomel melihat PSSI kalah, cinta kami tetap pada PSSI. (halaman 64)
·         Pemain sayap kiri, jawabku pelan. Pemain sayap kiri yang lebat. (halaman 89)
·         Sering kami beertatapan, diam dan lama, saling menyelidik, saling membayangkan, saling mengandaikan, dan saling tertarik. (halaman 91)

2.      Aliterasi adalah semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama. Ada beberapa gaya Aliterasi dalam novel “Sebelas Patriot” karya Andrea Hirata. Antara lain sebagai berikut:
·         Ingatan petama tentang Ayah tampak seperti gambar yang samar, yaitu pada suatu malam aku duduk di tengah sebuah ruangan dengan dua anak lain (halaman 1)
·         Aku tahu ke mana arah bola yang kusikat tadi, namun beberapa detik kemudian kudenganr teriakan gegap gempita dari ribuan penonton: goooooooooooollllllllllllll!!!!!! (halaman 50)
·         Ayah menjawab: sunyi, sepi, senyap.(halaman 65)

3.      Klimaksadalah gaya bagasa yang berupa susunan ungkapan yang semakin lama mengandung penekanan atau makin meningkat kepentingannya dari gagasan atau ungkapan sebelumnya. Klimaks hanya ada satu dalam novel “Sebelas Patriot” karya Andra Hirata yaitu sebagai berikut:
·         Jika ada pertandingan sepak bola, stadion mulai didatangi perempuan baik bocah perempuan, gadis-gadis remaja, maupun ibu-ibu dan beberapa host terkenal. (halaman 92)
Kata bocah perempuan, gadis-gadis remaja, maupun ibu-ibu merupakan urutan yang semakin lama semakin meningkat.

-Wee Pratiwi-