Surat dalam Botol
Cerpen: Utami Pratiwi
Ibu, dengarkan aku bercerita tentang hari ini.
Aku memenuhi segala janji yang tak pernah kau minta.
Ibuku sayang, hari ini anakmu lulus dengan nilai terbaik. Jika ditanya hal yang paling aku syukuri adalah lahir dari rahim perempuan hebat sepertimu. Aku harap di kehidupan selanjutnya, aku kembali menjadi anakmu. I love u
Kugulung surat yang baru saja kutulis. Siap masuk dalam botol dan membiarkannya melakukan perjalanan mengarungi laut. Bukan, bukan untuk memberi kabar kepada Neptunus sang dewa air. Tapi ini adalah caraku bercerita.
Bau amis laut sudah bukan hal yang asing. Duniaku adalah di tempat ini. Dulu aku berpikir bahwa semua tempat seperti di mana aku tinggal. Kungkungan anggapan itu runtuh ketika satu-satunya orang yang memperjuangkan pendidikanku mengirimku ke tempat asing. Tempat yang membukakan mataku bahwa dunia itu luas, tak sebatas bau amis laut dan orang-orang yang setia mengarungi laut, nelayan.
Sore ini langit sedang bersahabat. Mempersembahkan angin semilir sejuk dan rangkaian warna langit menjelang senja. Sore menjadi saat yang menyenangkan karena bisa melewati hari ini dan siap menyapa besok dengan harapan baru. Ya, seperti harapanku.
“Ibu, apakah kau bisa merasakan kebahagianku saat ini?” lirih sekali kuucapkan kata itu. “Kukirim surat ini untukmu. Harapku, ibu merasakan bahagiaku kini.”
Dengan halus ombak membawa botol itu pergi mengarungi laut. Bersama itu, aku lihat sebuah perahu kecil terombang-ambing mengalahkan ombak. Sosok dalam kapal itu tak asing. Ayah pulang.
“Ayah kurus sekali.” Kugenggam tangan legam ini dan menciumnya.
“Ah, perasaanmu saja. Maafkan ayah yang tidak bisa memenuhi permintaan untuk hari ini.” Ada rasa sesal dalam wajah itu. Tuhan, aku tak mau melihat orang yang sangat kusayangi ini minta maaf.
Aku berjalan mendekatinya. Pandanganku mulai terlihat kabur.
“Ayah, ayah tak seharusnya minta maaf.” Ada nada sengau dalam suaraku. Menahan tangis. Aku memeluknya.
“Wah, sudah-sudah. Katanya udah jadi sarjana, tapi kok cengeng.” Tangan legamnya membelai jilbabku. Sia-sia, kata-kata beliau membuatku ingin semakin dalam membenamkan wajah, dan mencurahkan tangisku. Tentang bahagia hari ini.
***
4 tahun lalu
“Ema, tak pantas ibu membiarkan kamu tumbuh bersama ikan asin di sini. Bau amis yang selalu mengungkungmu.” Aku benar-benar tak tahu arah pembicaraan ibu.
“Maksud ibu bagaimana?” Ada nada bingung dari pertanyaanku.
“Besok kamu pergi ke kota. Daftar kuliah di sana.” Jawab ibu ringan.
“Nanti tak ada yang bantu ibu di rumah.” Kataku datar, tapi sejujurnya hatiku meledak-ledak bahagia. Ini adalah jawaban dari rangkaian doa yang kupanjatkan selama ini. Terkabul lewat pembicaraan yang ditemani setumpuk ikan asin.
“Masih ada ayah. Kamu tak usah mikir apa-apa. Tugasmu belajar dan setor nilai baik tentunya.” Sambil tertawa ibuku mencubit pipiku. Jelas saja ada menyengat bau amis lendir ikan yang kami bersihkan.
“Bu, jika ditanya hari yang paling membahagiakan, pasti aku akan menjawab hari ini. Terima kasih sudah mewujudkan impianku.” Aku beranjak dari tempat dudukku, dan memeluknya. Aku menangis, bahagia.
“Yah, kok nangis. Sudah kewajiban ibu membuatmu bahagia Ema. Ibu bahagia bisa memilikimu.” Kata ibu sambil mengelus jilbabku.
Aku menikmati kuliah, semua berjalan lancar. Hingga tiba sebuah kabar yang meruntuhkan suatu pagi. Tepatnya ketika aku baru menjalani kuliah selama dua tahun.
“Ema, kuliahmu sibuk?” tak biasanya ayah menelpon sepagi ini.
“Ada apa? Semua baik-baik saja kan?” Tanyaku panik.
“Ibumu. Pulanglah.” Dua kata yang membuatku mematung, pikiran terburuk sudah menghampiri otakku.
Bagaimana mungkin ibu yang baru sebulan lalu mengantarku ke stasiun kereta dengan keadaan sehat kini terbaring lemah. Ataukah hanya aku saja yang tidak menyadari kondisi selama ini.
“Ema, maafkan ibu ya.” Kata ibu dengan berurai air mata.
“Kenapa tidak pernah bilang kalau ibu sakit leukimia?” Bodohku memang, aku tidak menyadari perubahan ibu. “Ema harusnya masuk ilmu kedokteran. Biar tidak melihat kondisi ibu seperti sekarang.” Tangisku pecah, mengutuki diri sendiri.
“Terima kasih sudah tumbuh menjadi anak yang membanggakan. Dan maaf, ibu hanya bisa mengiringi jalanmu untuk sukses sampai di sini.”
“Ibu tidak boleh berkata seperti itu.” Aku semakin terisak.
Tuhan masih menyayangiku. Paginya ibu dibawa seorang dokter untuk berobat. Entahlah, ada sisi hatiku yang berkata tidak rela melepas ibu.
“Ratna tidak lama lagi pasti sembuh.” Dokter itu mencoba meyakinkanku. “Soal biaya tidak usah dipikirkan. Saya adalah teman lama Ratna, dulu saya juga tinggal di tempat ini.”
“Oh ya?.” Kataku ketus.
“Terima kasih sudah mau merawat istri saya.” Ayahku tertunduk. Sebenarnya ada apa di tempat ini.
Sejak kedatangan dokter yang usianya tidak jauh berbeda dengan ibuku ini, keadaan di rumah jadi serba canggung. Bahagiaku tadi hilang sudah. Tertinggal wajah murung ayah.
“Percayakan ibumu kepada saya. Nanti kalau ada yang terjadi akan segera saya kabari.” Ucap Dokter Tedi.
“Saya mau mengantar ibu.” Aku mulai jengah dengan hawa yang sungguh menyesakkan ini.
“Sudah Ema, percayakan ibumu pada Dokter Tedi. Dokter Tedi ini baik. Tidak sopan sikapmu seperti itu.” Aku tertunduk. Segan dengan kalimat ayah seperti itu.
***
Akhirnya aku melepas ibu pergi bersama Dokter Tedi. Tanpa pendamping ayah atau pun aku ikut bersama mereka. Ayah tak henti-hentinya meyakinkan kebaikan Dokter Tedi. Semakin ayah memujinya, semakin tidak yakin aku dengan semuanya. Dia seperti telah merebut ibu dengan paksa. Aku sangat tidak suka!
Ternyata perasaanku tidak pernah salah. Sejak kepergian ibu, aku tak pernah lagi menjumpainya. Aku ingin sekali menutup telingga jika ada yang berkata bahwa ibuku tidak kembali karena menikah dengan Dokter Tedi. Lalu, di mana kedudukan ayah? Bukankah selama ini mereka baik-baik saja?
Apapun yang terjadi, aku tetap menunggu ibu pulang. Beliau adalah perantara tangan Tuhan yang mewujudkan keinginanku untuk tetap sekolah. Bagaimanapun kondisi keluarga kami.
Ada kebiasaan baru ketika aku pulang. Caraku bercerita dengan ibu adalah melarung botol berisi ceritaku kepada beliau. Aku selalu menikmati suasana seperti ini. Ketika melihat botol mulai digulung ombak dan menjauh, semakin dekat pula ceritaku sampai.
***
Setelah dua tahun lalu, sekarang aku benar-benar kembali ke tempat ini. Tidak banyak yang berubah. Ibuku masih belum pulang. Ayahku masih setia dengan laut, karena hewan laut yang berlarian adalah mata pencaharian bagi kami. Rasanya memang tidak adil, bersaing untuk tetap hidup dengan ‘mereka’. Jika ‘mereka’ mati, maka kami bisa hidup dan jika tak ada dari ‘mereka’ yang tertangkap dan mati, maka kami siap bertanya, makan apa ya hari ini?
Ayahku memang tak datang di hari bahagiaku, wisuda. Tapi aku yakin, ayah mendengarkan kata-kataku ketika berpidato di podium, mengucapkan berjuta terima kasih tentang kasih sayang dan pengorbanan selama ini. Ibuku juga pasti mendengar. Walaupun aku tak tahu beliau ada di mana.
Malam ini aku merasa kehangatan. Berada di samping ayah, bercerita masa kuliahku selama empat tahun ini. Dan merencanakan masa depan. Tapi di balik tawa kami malam ini, sebenarnya ada banyak pertanyaan yang ingin kusampaikan.
“Ayah, bolehkah Ema bertanya sesuatu?” Ketika tawa kami reda, aku mulai bertanya tentang apa yang membuatku penasaran selama ini. Ku perbaiki posisi duduk, mendekati ayah.
“Tentang ibumu.” Ternyata ayah sudah tahu arah pembicaraanku. “Ibumu itu orang yang baik. “
“Aku juga percaya kalau ibu orang yang baik, dan lebih tidak percaya dengan omong kosong itu. Sudah bosan telinga ini mendengar gunjingan. Dua tahun bukan waktu yang singkat.” Aku mulai emosi.
“Orang-orang di sini bergunjing seperti itu karena mereka tahu alasannya. Tedi bukan orang asing, ia pernah tinggal lama di sini dan mengenal ibumu dengan baik. Tedi mencintai Ratna.”
Deg! Ternyata alasan itu yang membuat orang-orang bergunjing ibuku menikah dengan Dokter Tedi.
“Sudahlah, tak usah membicarakan hal ini. Tidak akan selesai.” Kata ayah akhirnya.
“Ya, karena ayah tak mau menyelesaikan cerita.” Aku masih emosi.
“Wah, ibu sarjana ini sekarang banyak bertanya ya?” Goda ayah sambil mencubit pipiku. Seperti kebiasaan ibu dulu. “Ayah tidak banyak menuntut Ema, jika ibumu pulang, ayah akan senang. Kalaupun tidak, berati Tuhan belum mengabulkan doa ayah selama ini. Biar saja waktu yang menjawab semuanya. Tidak perlu mengiraukan kata-kata yang membuat telingamu jengah.”
***
Ibu, aku selalu menunggu datangmu. Apakah kau merasakan rindu ini?
Semalam ayah sudah bercerita. Dalam sosok diam ayah, terdapat banyak munajat doa yang disampaikan. Sama sepertiku, ingin ibu cepat pulang. I miss u
Seperti sebelum-sebelumnya, kertas ini mulai kugulung dan memasukkannya dalam botol. Membiarkannya mengarungi lautan sore ini.
“Boleh mengusik soremu sebentar?” Sapa seseorang yang sempurna mengurungkan niatku memasukkan gulungan ini dalam botol. Siapa orang ini, batinku.
“Siapa ya?” Tanyaku dengan ekspresi bingung.
“Ema, kamu lupa sama aku? Coba cermati, siapa lelaki tampan di sampingmu ini.” Godanya.
Mataku mengawasinya dari atas sampai bawah. ”Luken?” Kataku akhirnya.
“Hahahaha, bagaiman kabarmu, lama sekali kita tak jumpa. Sudah jadi sarjana sekarang?” Caranya bertanya masih seperti dulu, ceria.
“Ya, seperti itulah. Kamu sendiri kemana saja. Aku kira kamu melupakan tempat ini.”
“Mana mungkin aku lupa. Aku menyukai tempat ini. Damai rasanya. Tidak banyak perubahan, sama seperti sepuluh tahun lalu. Tapi berbeda dengan pemikiran orang di sini. Itu yang lebih membuatku kangen dan ingin tinggal lebih lama, namun aku masih mencari alasan apa yang memaksaku tinggal di sini.” Matanya jahil melirikku.
“Iya, mereka yang berjuang melawan ombak. Lebih tepatnya bersahabat dengan ombak. Bukankah seperti itu pekerjaan nelayan? Pemikiran ibuku yang merubahku seperti sekarang ini Ken. Ibu yang sekarang kurindukan. Ayahku walau nelayan biasa juga mempunyai kegigihan untukku.” Senyumku, getir.
“Mereka mewujudkan keinginan yang dulu mungkin pernah dimimpikan tapi tak sempat menjadi nyata karena keadaan. Nah, lewat kamu semua itu terwujud. Melihatmu seperti sekarang ini sudah pasti mereka bangga. Ibumu adalah orang yang baik. Ayahmu juga tak kalah baik Ema. Karena mereka kamu bisa mengejar mimpi.”
“Kamu pasti sudah dengar tentang ibu.” Kataku lirih.
“Boleh aku melihat kertas yang urung kamu masukkan ke dalam botol?” sepertinya Luken sengaja mengalihkan pembicaraan. Aku berikan surat untuk ibu. Tak ada alasan menyembunyikan surat itu dari Luken, sahabatku dulu, walau hanya sebentar.
“Sudah kuduga. Aku mengenal tulisan ini.”
“Apa maksudmu?” Aku bingung mengartikan perkataan Luken.
“Entahlah, dua tahun lalu ketika aku menikmati sunrise, ada sebuah botol terapung. Itu suratmu yang pertama sepertinya. Dan surat-suratmu yang lain juga ku temukan di tempat yang sama.” Kata Luken ringan.
“Di mana?” Ada tanya menggelitik dalam diriku.
“Laut dekat tempat tinggalku kini. Jika dihitung, perjalanan suratmu 30 km, dan terdampar di tempat yang sama. Aku yang menemukan, dan...”
“Dan?” Aku tak sabar lagi. ini tentang ibu!
“Surat itu sampai ke tujuan. Aku tahu ibumu berada.”
Luken bercerita banyak sore ini, bahkan hingga matahari tenggelam ceritanya belum selesai. Ia mengambil sekolah kedokteran dan tanpa sengaja bertemu dengan Dokter Tedi. Selama dua tahun Dokter Tedi merawat ibuku. Entah alasan apa yang membuat ibuku tak mau pulang sebelum ia sembuh. Rasanya aku harus mengucapkan terima kasih kepada Dokter Tedi, sekaligus meminta maaf.
Kukabarkan kepada ayah tentang sore ini. Ayah hanya tersenyum dan memelukku. Meyakinkanku bahwa semua doa selama ini didengar oleh Tuhan, hanya menunggu waktu saja.
“Selalu ada cara yang dilakukan Tuhan untuk mengembalikan ibumu. Ayah sudah bilang, Tedi orang yang baik. Dia menjaga ibumu. Ayah tahu benar bagaimana sifat ibumu. Ia hanya tak ingin terlihat lemah di matamu Ema. Kini setelah kamu lulus, ibu percaya kamu anak yang hebat. Tidak ada alasan untuk tetap bersembunyi dari kita.”
“Aku tidak pernah merasa bahwa kondisi ibu adalah beban, sungguh.” Aku meyakinkan ayah.
“Mungkin saja ibumu berpikiran lain. Ia ingin kamu fokus kuliah. Tidak memikirkan kondisinya. Menghilang, tetapi dia tetap bisa melihat anaknya bersinar. Impian ibu dan ayah sudah terwujud. Membuatmu seperti sekarang. Bisa menikmati apa yang dulu tak pernah bisa kami nikmati.”
Aku tak bisa berkata apa-apa. Kasih sayang dan perjuangan mereka menggiringku seperti sekarang. Terima kasih.
***
Tuhan, terima kasih telah mengutus seorang yang kini duduk di sampingku sebagai perantara suratku selama ini sampai kepada ibuku.
Ibu, aku segera datang.
