Cerita Lelaki Tua
Cerpen: Utami Pratiwi
Sore ini ditemani hujan yang mengguyur Jogja, aku kembali melihat lelaki tua itu. Sudah beberapa hari ia setia di toko Sinar Harapan. Muka suram dengan topi lusuh dan sesekali menghisap rokok dalam-dalam. Asap mengelilinginya.
Di sisi lain aku melihat lalu lalang orang. Payung melindungi tubuh mereka dari terpaan hujan. Tak ada tegur sapa. Dingin memaksa mereka bergegas. Ingin lekas sampai rumah untuk menemukan kehangatan. Sebuah keluarga.
Seandainya saja tempat berteduh semudah berada di bawah lindung payung. Dan mencari kehangatan hanya dengan dikelilingi asap, tapi bagiku tak sesederhana itu.
“Sampai kapan kamu seperti ini Feere?” Perempuan yang paling kusayangi angkat bicara, ketika itu sore seperti saat ini.
“Maksud Ibu bagaimana? Fee baik-baik saja.” Kilahku sambil memasukan makanan tanpa rasa. Hambar.
“Kamu sekarang jarang di rumah. Seperti ini caramu perlahan menyiksa Ibu. Sudahlah jangan tambah beban ibu.” Walaupun dengan hati-hati, aku melihat ada sedikit emosi dari perkataan itu.
“Tolong sebutkan alasan agar Fee bisa lebih lama tinggal di rumah ini.” Kini Ibu benar-benar emosi.
“Apakah Fee perlu menjawab?” Sempurna sudah aku meletakkan makanan yang sejak awal tanpa niat aku menyantapnya. Dan bergegas meninggalkan rumah.
Bukan aku tidak sayang dengan Ibu, tapi pulang memaksanya melihat bayangan Ayah selama ini. Sosok yang begitu kukagumi, aku masih ingat, dulu jika ditanya tentang cita-cita, maka aku dengan bangga berkata “Aku ingin menjadi seperti Ayah”.
Tiba suatu malam di bulan Februari, hujan masih membungkus kota Jogja. Dering telefon menggema di ruang tamu, singkat Ibu berbicara dengan orang di seberang sana. Setelah itu tertunduk dan menangis.
Mendung dan hujan bulan Februari tidak hanya mengguyur kota Jogja, tetapi membawa mendung dan hujan berkepanjangan untuk keluarga kami. Sejak saat itu aku tidak pernah menemukan hangat sebuah keluarga. Karena seorang bagian dari kehangatan kami ada di ruangan sempit dan walaupun aku yang belum pernah menghuni tempat itu, dengan sangat yakin aku memastikan tempat yang dingin. Penjara.
Kembali kuarahkan pandanganku kepada sosok lelaki tua. Aku ingin menghampirinya dan bercakap. Tapi nyali ciut memaksaku hanya diam di tempat yang aman. Di tempatku berdiri kini. Menunggu hujan reda.
Yang kutunggu tiba. Trans Jogja yang, entahlah akan membawaku kemana. Aku masih enggan pulang. Walaupun sebenarnya caraku menyiksa Ibu dan menyiksa rinduku.
“Setiap menyalakan TV pasti beritanya tentang korupsi. Bosan rasanya. Mulai dari pejabat, artis sampai orang-orang kecil pun ikutan korupsi.” Mulai lagi. ibu-ibu dengan semangat membunuh waktu perjalanan dengan gosip.
“Korupsi lagi ngetrenya bu. Tapi berita panas korupsi bulan lalu sudah mulai reda. Sekarang diganti dengan pemberitaan konser yang katany akan gagal tayang bu.” Ibu dengan jilbab hijau menanggapi.
“Ah, kita sebagai penonton ya manut saja apa yang ditayangkan di TV. Ya to Bu.”
“Wah ndak bisa gitu. Lha ini kasus korupsi besar koktiba-tiba diganti dengan pemberitaan lain. Kan menjadi tidak fokus bu. Ah, orang-orang sekarang ini kok rasanya gampang sekali mencari uang dengan jalan pintas. Kalau saya yang penting cukup. Tidak muluk-muluk lah.”
Aku yang duduk tepat di sebelah ibu-ibu ini dengan ditemani earphone mendengar semua pembicaraan tadi. Ingin aku berteriak “Tidakkah kalian tahu jika anak yang duduk di samping kalian adalah putra dari orang yang sedang asyik kalian gunjingkan wahai Ibu-ibu?”
Muak lama-lama berada di sini.
***
Hari ini langkah memaksaku memasuki tempat yang sejujurnya aku sedikit takut. Tapi entahlah kenapa kaki ini tiba di sini. Toko Sinar Harapan. Diam-diam aku menantinya datang. Lelaki tua yang selama ini aku lihat. Belum terlalu sore, jadi ia mungkin masih mengembara. Tempat ini adalah tujuan ia pulang, dan aku menunggu.
Dari jauh muka tua itu diterpa cahaya langit senja. Melangkah mendekatiku dengan senyum yang mengembang. Topi lusuh itu setia di kepalanya. Senja ini tidak ada rokok yang ia hisap.
“Kau akhirnya menemuiku anak muda. Sudah lama aku menunggumu.” Perkataan itu sungguh mengagetkanku. Jadi selama ini ia merasa ada yang memperhatikan. “Matamu itu tak bisa bohong. Ada apa?”
“Tidak apa-apa. Saya hanya ingin di sini.” Kataku lirih.
“Namamu siapa?” lelaki tua itu duduk di sampingku.
“Fee. Feere Harianto.”
“Nama belakangmu sudah tak asing sepertinya. Menjadi sorotan media akhir-akhir ini. Apakah aku salah Feere?” mata yang menyelidik.
Deg! Kesalahan terbesarku hari ini, menyebutkan nama terkutuk itu. Belum sempat aku menajwab, lelaki tua yang entah tidak menyebutkan namanya itu mulai bercerita.
“Saya pernah mengalami hal sama. Menjadi sorotan, pemberitaan itu tidak jauh berbeda dengan yang Harianto alami sekarang ini. Oh ya, sebelum terlalu banyak membuatmu bingung, aku mengetahui semua informasi tentang harianto dari koran yang selama ini setia menemani saya.” Tiba-tiba ia mengeluarkan rokok dan mulai menyulutkan api, menghisapnya dalam-dalam seperti yang sering kuperhatikan selama ini. “Kamu merokok Feere?”
“Tidak pak, terima kasih.”
“Saya mempunyai anak perempuan. Kira-kira umurnya lima tahun di atas usiamu dan mempunyai istri yang cantik. Tapi sekarang mereka meninggalkan saya.” Lelaki tua itu menghentikan ceritanya, menghisap rokoknya dalam-dalam dan merontokkan abu yang ada pada ujung rokok. “Kamu tahu Komisi Pemberantasa Kawan? Nah saya ini menjadi salah satu korbannya. Waktu itu kedudukan saya tidak terlalu tinggi. Ada sebuah proyek pembangunan jalan di daerah Kusumanegara. Bodoh saya memang mengikuti jalur yang tidak semestinya. Rupiah demi rupiah masuk mulus ke kantong. Tanpa sadar bahwa saya telah mencekoki keluarga saya dengan bahan-bahan pembangun jalan. Sekarang kamu tahu bahwa orang yang di hadapanmu adalah mantan nara pidana.”
“Saya masih menunggu lanjutan cerita Bapak.” Sekarang malam mulai mengganti senja. Merayap diam-diam mengganti warna jingga menjadi gelap.
“Iya, dari berita yang saya ikuti, bapak kamu sepertinya juga pegawai pemerintahan yang kedudukannya tidak jauh berbeda dengan saya dulu. Sekarnag saya mau tanya. Feere percaya kalau Harianto melakukan korupsi?” Pertanyaan yang membuatku diam sejenak.
“Entahlah.” Jujur saja, walaupun sekarang aku membenci Ayah, tapi di sisi lain aku juga tidak yakin.
“Kamu lihat saya selalu sendiri, apakah kamu mau Harianto mengalami nasib seperti saya? Selidiki dulu. Cukup saya saja yang merasakan kehilangan, disingirkan dan ditinggalkan.”
“Apakah bapak selama ini tidak merindukan keluarga?” tanyaku lirih, menjaga perasaannya.
“Sangat rindu. Semoga saja suatu saat mereka memaafkan saya. Rasa paling berat adalah ketika berada pada posisi seperti ini. Ditinggalkan keluarga dan saudara-saudara. Tidak ada tempat untuk saya pulang. Melabuhkan dingin yang menggigit tiap malam. Percayalah Feere, kedamaian abadi adalah bisa merasakan kehangatan keluarga.” Cerita yang panjang membuat rokok yang dipegang menjadi abu. Kemudia ia mematikan puntung rokok dengan menginjaknya. “Saya selalu menanti kamu di tempat ini untuk bercerita kebebasan ayahmu. Hanya menunggu waktu. Dan jika daya sudah tidak ada di emperan toko ini, berarti saya sudah dijemput.” Senyum itu mengembang.
Malam ini aku menajak kakiku beranjak pulang. Menjemput kehangatan.
***
Senyum Ibu mengembang. Aku memeluknya. Diam bisa berati berbicara. Lewat pelukan ini sudah bisa bercerita bahwa aku siap kembali ke rumah ini, lebih lama. Tidak hanya sekedar pulang, ganti baju, dan pergi. Tetapi lebih lama tinggal dan menyelesaikan masalah yang sebelumnya tak pernah kusentuh.
“Sudah siap tinggal di rumah?” Goda ibu. Beliau selalu tahu aku sudah berubah dan mulai memaafkan keadaan.
“Ya, aku ingin membebaskan Ayah. Feere yakin Ayah tidak bersalah bu. Dalam pembangunan gedung olah raga itu bukankah Ayah tidak terlibat banyak. Bisa-bisanya mereka memasukkan Ayah ke dalam penjara. Benar kata lelaki tua itu, hanya permainan Komisi Pemberantasan Kawan. Kalau sudah masalah uang, tak ingat mana kawan mana lawan.” Kataku sengit.
“Lelaki tua?” Ada ekspresi bingung dari wajah Ibu.
“Ya, orang yang membuatku sekarang kembali ke rumah.”
Tidak membutuhkan waktu lama, aku menemukan seorang yang mau memperjuangkan kebebasan ayah. Sampai sekarang aku belum sekali pun mengunjungi ayah di penjara. Aku masih enggan. Tidak tega melihat orang yang sangat kusayangi meringkuk di dalamnya.
“Feere saya percaya ayahmu tidak bersalah. Serahkan masalah ini kepada saya. Jangan lihat usia yang masih tergolong muda. Silakan kamu nilai kinerja saya.” Begitu pertemuan hari ini. Pengacara yang masih muda.
“Iya, Hara. Saya percaya. Mari kita selesaikan semua ini.”
Benar yang dikatakan Hara, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membuktikan bahwa ayah tidak bersalah. Korupsi yang kini melekat pada diri ayah, hilang sudah. Damai datang kembali dalam keluarga kami.
Hari ini aku melewati jalan yang dulu akrab denganku. Usaha pembebasan ayah menyita banyak waktuku sehingga tak sempat singgah di empran toko. Aku ingin memenuhi janji bercerita kepada lelaki tua itu. Tentang kebebasan ayah.
Dengan jalur yang sama aku menaiki Trans Jogja. Aku tersenyum mengenang pembicaraan Ibu-ibu yang dulu sempat membiatku muak dan segera ingin keluar dari dalam bus. Sekarang tidak ada lagi pembicaraan tentang korupsi maupun konser yang teranam gagal tampil. Aku menikmati sepi dengan melihat orang-orang di sekelilingku.
Tiba di emperan toko Sinar Harapan. Aku menunggu lelaki tua itu. Sudah cukup lama tapi sosok itu tak kunjung datang. Aku mulai rindu dengan topi lusuh dan rokok yang menyertainya.
“Mas menunggu Pak Brahman?” tanya seorang penjual koran sore.
“Pak Brahman?” Aku ganti bertanya. Bingung.
“Iya, yang sering di sini, pakai topi?”
“Oh iya. Sekarang beliau di mana ya?” Aku baru tahu nama lelaki tua itu Pak Brahman.
“Sudah tiga hari ini Pak Brahman tidak pulang ke sini mas.” Penjual koran itu pergi, tinggal aku yang bertanya-tanya.
Mungkin lelaki tua itu sudah dijemput keluarganya. Menemukan kehangatan yang selama ini meninggalkannya. Selamat menemukan kebahagiaan dan menyambut perdamaian yang bisa terwujud atas bantuan waktu. Waktu juga yang membantunya mewujudkan doa seperti toko yang selama ini tempat ia pulang, Sinar Harapan. Harapan berkumpul kembali dengan orang-orang yang sempat bercerai-berai.
Sudah cukup korupsi menjadi bagian masa lalu lelaki tua itu membuat keluarga dan saudara-saudaranya menjauh. Melalui cerita lelaki tua itu, aku bisa membuka atau bahwa ada kebenaran dalam diri ayah yang sebelumya kuyakini tapi sempat ragu karena berbagai pemberitaan.
Pertemuan dengan Hara memunculkan kehangatan lain dalam hati ini. Aku juga yakin, Ibu menyukai Hara. Bukan hanya kinerja hara yang baik, tetapi menyukai sifat di luar pekerjaannya selama ini. Hara adalah orang yang memunculkan warna baru dalam keluargaku.
***
Hari yang kunantikan tiba. Hari pembebasan ayah.
Ayah, ada yang berbeda dari diriku kini. aku menyebutnya proses pendewasaan. Dengan sangat tiba-tiba rasa ini menggelayuti. Memaksa menyusup sendi-sendi kebahagiaan masa lalu. Kehangatan yang tak kan pernah aku dapatkan dari orang lain. Adakah ruang kecil menyisakan maaf di hatimu? Aku tahu benar kini, ada yang lebih tajam dari pisau. Yaitu rindu. Rindu ingin berlari, besimpuh, memeluk dan mengucap maaf.
Ayah, kehadiranmu membungkam sepi.
Keterangan: Cerpen ini membawa saya menjadi Juara III SELEKDA PEKSIMINAS IX.
