Aku pernah melihat rumah. Dari luar terlihat sangat mewah dan sepertinya isi di dalamnya luar bisa. Semakin lama, rumah itu mendekat. Bukan, bukan aku yang mendekat. Tetapi rumah itu. Berlahan aku mencoba memasukinya. Awalnya aku ragu, dan beberapa kawan sampai orang tuaku awalnya tak memperbolehkan aku memasukinya. Aku mendengarkan mereka, aku mencoba mengerti alasan mereka melarangku. Aku cukup mengerti saat itu. Namun, rumah itu semakin mendekat. Kemewahannya tak berubah sedikit pun dalam pandanganku, dan aku bisa mengintip isi dalamnya yang ternyata sekilas memang luar biasa. Hari itu hujan, pikirku, sudah cukup mendengar dan mengerti larangan kawan dan orang tuaku. Mereka lama-lama jera dan terserah keputusanku terhadap rumah itu. Hujan semakin deras. Aku akhirnya memasuki rumah itu.
Bulan November, musim hujan awal yang lebat. Nyaman sekali rasanya berada dalam rumah itu. Rumah yang dulu awalnya hanya aku lihat dan dulu pernah takut untuk didatangi. Tiba-tiba, rumah itu bertambah usia dan berubah isinya. atau memang dari dulu memang tak semewah yang kubayangkan? Entahlah, yang ku tahu sekarang, aku sedikit tak nyaman di rumah ini. Aku merasa hangat dalam rumah hanya dua bulan saja. Setelah itu dan sampai sekarang, aku tak merasakan kenyamanan dulu, bahkan seperti ingin keluar sebentar. Sebenarnya aku sudah mencoba keluar sebentar. Kenyataan membawa aku masuk lagi ke dalamnya.
Pernah berpikir. Sepertinya lebih indah rumah itu jika aku pandang saja. Mengagumi dari luar, tak perlu masuk di dalamnya. Ah, entahlah mengapa rumah itu sekarang berubah. Jika aku berpikir untuk keluar, salahkah?
Kadang mengerti itu ada batasannya. Kadang aku juga ingin dimengerti. Kadang mengikutimu itu mengasikan. Kadang aku juga ingin diikuti. Kadang egoismu itu yang paling menang. Kadang kamu juga perlu tahu kalau aku juga punya rasa egois. Kadang berdebat denganku, kamu yang harus menang. Kadang aku yang selalu mengalah.
Aku sekarang 22, memasuki rumah 30. Apakah jarak 8 itu terlalu jauh? Terlalu memenangkan keinginanmu untuk selalu dimengerti, memenangkan keegoisan. Ah, jarak juga ternyata yang memperjauh pemikiran kita. Tentang kecerdasanmu yang luar biasa, aku mencoba mengikuti kini.
Siapa saja memandang rumah yang kumasuki mungkin mewah. Aku di sini lelah.